Tuban – Penghapusan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) Madrasah Diniyah (Madin) di Kabupaten Tuban kembali mencuat. Isu ini menjadi pembahasan dalam debat publik kedua Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Tuban, Sabtu malam (9/11/2024).
Pada sesi saling bertanya dan menanggapi, Calon Wakil Bupati (Cawabup) nomor urut 1, Wafi Abdul Rosyid melontarkan pertanyaan cukup menohok. Ia mempertanyakan apa yang mendasari Aditya Halindra Faridzky menghapus Bosda Madin ketika menjabat sebagai Bupati Tuban.
Padahal, keberadaan Madin dan Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) menjadi salah satu tempat untuk mendidik moral, akhlak serta membentuk karakter generasi bangsa.
Pertanyaaan tersebut direspon sangat serius oleh Calon Bupati (Cabup) Tuban, Aditya Halindra Faridzky. Cabup Petahana itu membantah keras telah menghapus Bosda Madin selama menjabat sebagai bupati sejak tahun 2021.
Menurut Lindra sapaan Cabup Tuban nomor urut 2 itu, penghapusan Bosda Madin dan insentif guru TPQ merupakan “fitnah”. Isu tersebut kerap menerpa dirinya. Jika terpilih kembali, Lindra berjanji akan terus memperhatikan insentif guru TPQ dan Bosda Madin.
“Dulu kepala daerah sebelum saya, insentif TPQ itu diberikan kepada kurang lebih sekitar 6 ribu orang. Selama tiga tahun, saya tingkatkan yang menerima insentif guru ngaji kurang lebih hampir 10 ribu orang,” terangnya.
Baca Juga:
Ditegaskan Lindra, dirinya sangat memperhatikan lembaga Madin. Sebagi bentuk komitmennya, dalam waktu dekat akan ada realisasi Bosda mAdin kepada 580 lembaga di Kabupaten Tuban.
“Lalu yang kedua ada sekitar 65 lembaga yang tidak tercover di tahun 2024 sudah kami anggarkan juga. bahkan insya Allah beberapa waktu ke depan, ada sekitar 2.500 lebih guru atau ustad-ustazah akan menerima insentif dari APBD Tuban,” jelasnya.
Sementara itu, Cabup nomor urut 1, Riyadi menuturkan bahwa mereka tidak asal bicara terkait Bosda Madin. sebab, faktanya banyak guru ngaji yang mengeluh tidak mendapat Bosda Madin.
“Ini adalah panggung publik tentu kami tidak sembrono, kami tidak memfitnah. Ada banyak guru ngaji yang berkeluh kesah tidak mendapatkan (bantuan),” ungkap Riyadi saat konferensi pers usai debat publik kedua berlangsung di Grand Javanilla Tuban.(dif)

















