Redaksi7.id, TUBAN – Proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Jawa Timur 1 di Kabupaten Tuban terus dikebut. Hingga 14 Mei 2026, progres pembangunan fasilitas program pendidikan gratis bagi masyarakat miskin itu telah mencapai 51 persen.
Koordinator Kepala Lapangan sekaligus Koordinator Wilayah Kabupaten Tuban dari PT Waskita, Agus Saputra menyampaikan beberapa pekerjaan yang sudah diselesaikan. Diantaranya, pekerjaan striping lahan, timbunan kawasan, pagar kawasan, pekerjaan struktur pondasi, struktur bangunan GWT, penanaman rumput lapangan bola.
Ditambahkan Agus, terdapat beberapa pekerjaan yang kini sedang dikebut, antara lain, pekerjaan struktur bangunan setiap gedung di lantai 2 (ring balok, penutup atap), pekerjaan arsitektur dan MEP setiap bangunan. Selain itu para pekerja juga fokus menyelesaikan jalan kawasan, lapangan joging track, lapangan basket, lapangan upacara.
“Target selesai 20 Juni 2026,” kata Agus Saputra kepada wartawan melalui pesan Whatsapp yang dikirim, Kamis siang (14/5/2026).
Agus optimis finishing proyek SR Tuban mampu diselesaikan tepat waktu. percepatan dilakukan dengan menambah tenaga kerja, alat berat, mempercepat distribusi material ke lokasi proyek, serta menambah shift kerja.
“Melakukan penambahan tenaga kerja serta sistem shift manjadi 3 shift,” kata Agus.
Baca Juga:
Penambahan sistem shift kerja telah diberlakukan. Shift pertama bekerja mulai dari Jam 08.00 sampai 17.00 WIB. Kemudian jam 13.00 sampai 21.00 WIB. Ketiga jam 22.00 sampai jam 04.00 hari berikutnya.
“Pekerja saat ini per tanggal 14 Mei 2026 sekitar 807 Tenaga kerja. Rencananya akan ditambah hingga jumlah total sebanyak 1.200 pekerja,” terangnya.
Agus mengungkapkan bahwa SR Tuban akan memiliki sejumlah fasilitas yang akan dibangun. Antara lain, tempat belajar mengajar (ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang guru, dan lain-lain, tempat ibadah dan masjid, asrama bagi murid dan guru dilengkapi dengan furniture , air bersih, kantin dan dapur, gedung serbaguna, fasilitas olahraga (lapangan sepakbola, jogging track, basket, bola voli), lapangan upacara, jalan kawasan dan parkir yang memadai.
“SR Tuban juga akan dilengkapi fasilitas untuk penyandang disabilitas,” bebernya.
Menurut Agus, proses pembangunan berjalan cukup lancar. Namun ada beberapa tantangan yang dihadapi kontraktor dalam menyelesaikan proyek. Seperti, menjaga Konsistensi Kualitas (Quality Control), manajemen Keselamatan Kerja (K3), kelelahan pekerja akibat jam kerja lembur (over time) meningkatkan risiko kecelakaan di lokasi proyek, kelancaran logistik dan koordinasi multi-pihak, Keterlambatan pengiriman material krusial atau tumpang tindih area kerja antar pekerja dan sub-kontraktor, serta kecepatan pengambilan keputusan (approval), birokrasi persetujuan material atau perubahan desain (change contract order).
“Sesuai kontrak akan selesai tanggal 20 Juni 2026 dan akan digunakan pada saat Tahun Ajaran Belajar Baru dibuka bulan Juli 2026,” ucapnya optimis.
Dijelaskan Agus, pengelolaan SR Tuban akan menerapkan konsep asrama bagi para siswa. Asrama dibedakan bangunan antara putra dan putri di setiap tingkatan SD, SMP maupun SMA. Setiap asrama dilengkapi dengan fasilitas kamar yang luas, ruang toilet dan kamar mandi yang bersih, ruang laundry (pencucian baju).
Selain itu, SR Tuban juga akan menerapkan sistem pendampingan intensif oleh wali asuh. Kamar wali asuh diletakkan di dalam koridor asrama yang sama dengan siswa/siswi agar mereka bisa mengawasi, membimbing, dan menjadi figur orang tua pengganti selama siswa jauh dari rumah.
Sementara itu, sistem pembelajaran akan menerapkan Kurikulum Terpadu Berbasis Karakter dan Kemandirian. Di dalam asrama, siswa/siswi diwajibkan untuk belajar mandiri sejak dini melalui aktivitas harian terstruktur, seperti merapikan tempat tidur sendiri, mencuci piring bekas makan, mencuci baju, hingga menyetrika pakaian mereka sendiri.
“Ekosistem Belajar yang Terisolasi dari Lingkungan Rentan. Konsep asrama sengaja dipilih karena pemerintah mengidentifikasi banyak anak berbakat dari keluarga miskin ekstrem gagal berkembang akibat lingkungan rumah atau tempat tinggal yang kurang kondusif untuk belajar,” jelasnya.(sav/dif)

















