Tuban – Aroma bawang merah dan bawang putih yang berpadu dalam penggorengan singgah di ujung hidungku. Sedap sekali baunya. Tanpa sadar perutku yang sejak pagi belum terisi makananmulai protes. Rasa lapar semakin tak terbendung.
Sesekali aku berdiri menengok dapur berukuran kira-kira 2×1 meter yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatku duduk. Nampak sesosok wanita paruh baya. Orang-orang memanggilnya Hernalis. Melihat keriput di wajahnya, usianya kutaksir sekitar 50an tahun.
Mata Hernalis menatap tajam penggorengan di atas kompor. Tangan kanannya yang terampil terus bergoyang menumis racikan berbagai bumbu dapur. Tubuhnya agak besar sehingga menyesaki dapur warung di tepi kawasan hutan jati turut Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban.
“Sebentar mas. Ini bumbunya sudah selesai. Tinggal memasukan enthungnya (kepompong ulat jati),” ujar Hernalis yang mungkin tahu aku tidak sabar menunggu oseng-oseng ulat dan kepompong jati buatannya.
Hernalis berusaha mempercepat pekerjaannya utnuk membuatku sedikit senang. Diambilnya semangkuk ulat bercampur kepompong, yang telah dicuci bersih. Ulat dan kepompong daun jati ini hasil berburu Hernalis di kawasan hutan sekitar.
Jumlahnya memang tidak banyak. Itu hasil jerih payah selama hampir dua jam. Hernalis sebenarnya masih ingin terus berburu ulat dan kepompong untuk dijual. Namun aku memintanya untuk berhenti, dan memasak hasil buruannya lebih cepat. Dengan ganti sejumlah uang tentunya.
Baca Juga:
Hidungku kembali dihampiri aroma menyengat. Kini lebih sedap dan harum. Ulat dan kepompong telah bercampur rata dengan bumbu. “Sudah (matang),” katanya diikuti gerakan memindahkan oseng-oseng ulat dan kepompong dari penggorengan ke sebuah piring.
“Biasanya ada yang minta digoreng kering. Tapi sebenarnya enak begini (tidak terlalu garing),” sambungnya.
Oseng-oseng ulat dan kepompong disajikan bersama sepiring nasih putih hangat. Tanpa komando langsung saja aku santap. Seperti biasa aku tidak pernah makan menggunakan sendok. Bagiku melahap makanan dengan tangan terasa lebih nikmat.
Nasi kedua masuk piringku. Rasanya tidak bisa berhenti. Tangan ini terus mengambil oseng-oseng, dan mencampurnya bersama nasi. Nikmat sekali, nasi hangat menemani oseng-oseng yang lezat.
Cara memasang tidak terlalu kering membuat rasa gurih dari ulat dan kepompong terasa sekali. Teksturnya yang empuk masih sangat terasa. Berbeda jika digoreng kering, maka sensasi empuk dari binatang tersebut akan hilang.
Selain enak dan gurih, ulat dan kepompong daun jati mengandung protein tinggi. Oseng-oseng ulat dan kepompong ini tergolong langka, karena hanya dapat dinikmati beberapa hari di awal musim penghujan. Seiring berjalannya waktu, ulat yang bermetamorfosis menjadi kepompong akan berubah menjadi kupu-kupu.(dif)

















