MAKASAR – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) berhasil mendorong Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mengembangkan ekowisata berbasis hutan dengan memanfaatkan energi terbarukan.
Capaian tersebut diraih melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dikembangkan Pertamina EP Papua Field. Program tersebut memberikan dampak positif pada lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat setempat.
Kepala Kampung Persiapan Malasigi Menase Fami mengungkapkan bahwa, PHE memberikan panel listrik tenaga surya. Dengan bantuan tersebut mereka kini mampu menghemat pengeluaran listrik hingga puluhan juta rupiah.
“Dari awal kami menggunakan genset setiap bulan bisa menghabiskan 30 sampai 40 juta. Sekarang bebas biaya,” ungkap Menase kepada wartawan, Senin siang (23/6/2025).
Selain menghemat pengeluaran listrik, masyarakat Kampung Adat Malasigi juga mendapat kemudahan dalam memperoleh air. Kini, mereka tidak perlu berusaha payah menimba air dari sungai untuk dibawa ke permukiman.
“Air kami dulu timba dari sungai, sekarang tidak perlu, tinggal putar kran, air tiba di rumah,” ujarnya bangga dalam acara Media Gathering 2025 Regional Indonesia Timur Subholding Stream Pertamina.
Baca Juga:
Menase Fami yang meraih Local Hero Zona 14 Papua Field menjelaskan bahwa, Kampung Adat Malasigi memiliki sejumlah potensi wisata. Diantaranya, keindahan hutan yang masih alami, keanekaragaman satwa liar, pemandian sumber air panas, gua alam, serta keunikan budaya masyarakat sekitar hutan
“Ada lima jenis burung cendrawasih di Malasigi, selain itu juga ada sumber air panas, gua dan produk anyaman mama-mama,” jelasnya.
Namun, keberhasilan yang dicapai tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menase harus berhadapan dengan masyarakat sekitar yang menentang rencananya mengembangkan desa wisata.
“Kami menjalankan wisata di kampung Malasigi itu penuh tantangan dan rintangan, sebab masyarakat di sana tidak sama dengan di Jawa,” bebernya.
Dengan penuh kesabaran dan kerja keras, Menase akhirnya mampu meyakinkan masyarakat sekitar yang terdiri dari empat marga. Mereka secara swadaya membangun fasilitas untuk pengunjung wisata hingga berkembang dan dikenal luas.
“Kami swadaya dengan hasil hutan, kami berburu hasilnya kami jual ke kota, lalu kami gunakan untuk buat toilet dan fasilitas yang ada di Malasigi,” paparnya.
Keberadaan Kampung Wisata Malasigi berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Mereka yang awalnya hanya menggantungkan hidup dari hasil hutan, berburu serta berkebun, kini mendapat penghasilan tambahan.
“Akhirnya anak-anak sekolah mendapat beasiswa yang kami bayar menggunakan uang dari wisata, dan kami keluarkan setiap bulan insentif Rp1,5 juta per KK,” imbuhnya.
Menurut Menase, pengembangan wisata di Malasigi awalnya bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan. Tanah Papua yang menjadi incaran banyak perusahaan mengancam kelestarian hutan sekitar.
“Hutan adalah mama yang harus kita jaga, karena setiap hari kita cari makan di sana. Kita harus menjaga potensi alam,” tuturnya.
Sementara itu, Manager Communication Relations dan Community Involvement Development (Comrel & CID) Regional Indonesia Timur Rahmat Drajat mengatakan bahwa program CSR Pertamina bukan sekedar seremonial.
“Di kampung-kampung seperti Malasigi, Papua Barat Daya, program ini (CSR) tumbuh dari bawah, melalui proses social mapping yang ketat, hingga terbentuklah program yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat,” tuturnya.
Berbagai bantuan diberikan perusahaan, mulai panel tenaga Surya, air bersih, pelatihan UMKM, hingga dukungan terhadap pengembangan wisata alam. Seluruh ya dibentuk dengan prinsip keberlanjutan agar dapat dinikmati generasi selanjutnya.
“Kami ingin program ini tidak berhenti di generasi sekarang, tapi juga memberi kail untuk generasi selanjutnya. Supaya yang kami tanam hari ini, tumbuh dan memberi manfaat jangka panjang,” jelasnya.
Kisah sukses beberapa kampung binaan kini menjadi inspirasi bagi daerah lain. Dari kampung yang dahulu tidak memiliki akses listrik dan air bersih, kini berkembang menjadi destinasi wisata yang tak hanya memberi pengalaman, tetapi juga penghidupan.
“Pertamina berharap model pendekatan partisipatif dan kolaboratif ini bisa direplikasi di wilayah lain, memperkaya zona pengembangan CSR yang berkelanjutan,” harapannya.(sav/dif)

















