TUBAN – Pelayanan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter Koesma Tuban dikeluhkan keluarga pasien. Gara-gara kurang teliti dan tidak memberi penanganan semestinya, nyawa seorang balita terancam.
Kini, bayi laki-laki usia 9 bulan itu harus mendapat perawatan medis secara intensif dari 3 dokter spesialis sekaligus. Sekujur tubuh mungilnya tiba-tiba melepuh hingga mencapai 80 persen, bengkak wajah, dan terus menangis menahan panas dalam.
Orang tua bayi Sutrisno Puji Utomo (33) menerangkan, awalnya kulit anaknya muncul ruam merah dan kulit melepuh di beberapa bagian. Warga Kelurahan Sukolilo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban itu, kemudian membawa sang anak ke IGD RSUD Dokter Koesma Tuban.
“Ruam merah, kulit punggung melepuh, dan bengkak di muka. Saya bawa ke IGD RSUD seperti itu. Jumat Maghrib masuk,” kata Sutrisno saat ditemui wartawan di kantornya Jalan Pramuka, Tuban, Selasa siang (29/4/2025)
Namun, menurut Komisioner Bawaslu Tuban itu, dokter jaga yang menangani anaknya hanya melakukan tindakan dasar. Anaknya dites suhu dan tes saturasi oksigen, tanpa ada pengambilan sampling darah dan sebagainya.
“Cuma dites suhu dan tes saturasi oksigen, tidak diambil darah dan sebagainya. Dokter jaga IGD ngomongnya alergi biasa,” ceritanya kepada wartawan.
Baca Juga:
Tidak tinggal diam, Sutrisno bersama istri Dewi Intan sempat meminta penanganan lebih. Bahkan, mereka sempat menjelaskan bahwa kondisi sang anak terus gemetar dan tidak berhenti menangis.
“Nggak sampai satu jam disuruh pulang. Saya bilang di rumah sudah gemetar dan menangis,” imbuhnya.
Sebelum pulang, pasien sempat diberi obat anti alergi biasa. Sutrisno kemudian memberikan obat tersebut kepada sang anak sesuai instruksi dokter jaga IGD RSUD Tuban. Namun, kondisi sang anak semakin memburuk.
“Dari IGD disuruh minuman obat anti alergi biasa, malah makin parah, nggak bisa tidur, kemudian Sabtu jam 6 pagi saya bawa ke RS Medika Mulia,” jelas Sutrisno.
Di rumah sakit swasta itu pasien mendapat penanganan lebih serius dan detail. Setelah dilakukan cek darah, diketahui adanya infeksi impetigo. Pasien juga didiagnosa Sindrome Steven Jhonson.
“Butuh penanganan khusus, karena mengancam nyawa. Sekarang anak saya kondisinya sekujur tubuh melepuh sekitar 80 persen hanya kaki yang tidak,” terangnya.
Sutrisno berharap kasus yang menimpa anaknya ini menjadi bahan evaluasi RSUD Dokter Koesma Tuban. Sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah, selayaknya untuk berbenah agar lebih berhati-hati mendiagnosa pasien.
“Saya berharap tidak terulang lagi pada yang lain dan IGD RSUD bisa lebih berhati-hati mendiagnosa pasien yang lain. Cukup anak saya saja yang mengalaminya,” harapnya.
Hingga kini, anak Sutrisno masih.menjalani rawat inap di RS Medika Mulia Tuban. “Hari ini ditangani 3 dokter, spesialis kulit, mata dan spesialis anak,” katanya.
Sementara itu, Direktur RSUD Dokter Koesma Tuban Dokter Moh Masyhudi membantah anak buahnya salah melakukan diagnosa terhadap pasien. Menurutnya, tindakan dokter jaga IGD sudah benar sesuai diagnosa awal.
“Untuk pemulangan pasien, karena menurut dokter jaga bisa dengan obat jalan,” kata Masyhudi saat ditemui di kantornya.
Meski demikian, pihak RSUD telah memanggil dokter jaga yang menangani pasien anak Sutrisno. Evaluasi dan pembinaan telah diberikan agar lebih berhati-hati dan tidak terlalu cepat mengambil keputusan atas kondisi pasien.
“Sehari setelah kejadian dokter jaga kita panggil untuk diklarifikasi dan investigasi,” ungkapnya.
Sebagai dokter senior Masyhudi menilai bahwa Sindrom Steven Jhonson merupakan penyakit langka yang jarang terjadi. Penyakit tersebut membutuhkan penanganan khusus dari berbagai disiplin ilmu kedokteran.
“SJS ini jarang terjadi dan penanganannya butuh banyak disiplin ilmu. Saya pribadi mengapresiasi pelayanan cepat dari RS Medika,” pungkasnya.(dif)

















