Redaksi7.id – Belakangan ini netizen khususnya dari kalangan Gen Z atau Generasi Z ramai membicarakan istilah baru, yaitu YONO. Istilah itu sebenarnya berkaitan dengan gaya hidup sebagai lawan dari istilah YOLO yang terlebih dahulu populer.
Lantaran baru, maka tak sedikit netizen belum mengetahui arti YONO yang banyak diperbincangkan netizen Gen Z. Istilah YONO merupakan singkatan dari You Only Need One atau secara harfiah adalah “Kamu hanya butuh satu”.
Di balik arti tersebut, YONO memiliki makna yang berkaitan dengan gaya hidup sebagai lawan dari istilah YOLO. Namun banyak kelompok anak muda yang saat ini lebih memilih YONO daripada YOLO.
Diketahui, istilah YOLO merupakan singkatan dari You Only Live Once. Jika diterjemahkan berarti “Kamu hanya hidup sekali”. Sebagai gaya hidup, artinya YOLO mengajak seseorang tidak sia-sia menjalani hidup yang hanya sekali.
YOLO kerap diartikan sebagai tindakan yang konsumtif atau membeli barang sesuai hati tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Tindakan tersebut untuk memuaskan hasrat atau kesenangan sesaat.
Seiring berjalannya waktu, YOLO mendapat pertentangan sehingga muncul istilah YONO. Berbeda dengan YOLO, gaya hidup YONO mengajak seseorang hanya mengkonsumsi kebutuhan penting yang punya fokus jangka panjang pada keberlanjutan secara ekonomi dan lingkungan.
Baca Juga:
Tren YONO mulai berkembang seiring dengan kondisi ekonomi global yang sedang mengalami krisis. Banyak negara di dunia harus menghadapi krisis ekonomi akibat tingginya nilai tukar, suku bunga tinggi dan lonjakan harga.
Kondisi tersebut memunculkan perubahan gaya hidup untuk menata ulang perilaku konsumtif sehingga banyak orang yang cenderung membeli barang sesuai kebutuhan ketimbang konsumtif. Singkat kata YONO menjadi salah satu pilihan gaya hidup untuk menghadapi krisis ekonomi.
Selain YONO, istilah gaya hidup yang cenderung hemat ini sebenarnya memiliki banyak variasi konsep. Beberapa netizen sudah tidak asing lagi dengan istilah Frugal Living atau minimalis. Kedua konsep itu sama-sama mengajarkan untuk hemat, tidak berlebihan dan hanya membeli sesuatu yang dibutuhkan.
Namun, YONO dinilai punya kekhasan yang mengacu pada konsumsi dengan fokus pada keberlanjutan secara ekonomi dan lingkungan. Dalam YONO, konsumsi tidak hanya sekedar hemat, tetapi harus memiliki nilai keberlanjutan sehingga tidak sia-sia. Misalnya, gaya hidup ini akan lebih memilih membeli barang berkualitas tinggi sehingga bisa dipakai dalam jangka panjang.
Kemudian, saat membeli kebutuhan pokok, gaya hidup YONO lebih memilih barang yang terbuat dari bahan ramah lingkungan dan dapat didaur ulang daripada barang habis pakai yang diproduksi secara massal. Membeli barang bekas juga menjadi pilihan konsumsi dari gaya hidup YONO.(sav)

















